jadi begitulah ia.
desau yang menyelinap dari sela bulumata
pada kelopak mripat yang pejam saat badan,
tubuh dan diri baring
bikin jarak dari keriuhan
dan mencipta jeda antara lelap serta jaga.
lelap ia... kekasih Itu...
nafasnya, wahai, kubayangkan
melantunlantun
tak hanya dari lorong lubang hidung
bahkan meruap dari tiap pori
hingga kamarpun tergoda pengin bisa mengalami tidur.
kutahu ia... kekasih Itu... lelap
bukan kerna aku menyaksikannya
melainkan kerna aku, entah bagaimana mulanya,
bisa merasakan liyebnya.
bahkan dalam kelayapan siangku
serasa dapat kujamah lezat istirah yang melentuk bukan kerna lelah.
oh... mimpi ia... kekasih Itu...
bukan mimpi momong...
bukan mimpi mulang...
bukan mimpi nglukis...
bukan mimpi ngaji...
melainkan Justru ia mimpi Menulis puisi...
"Mimpi nulis puisi bagus sekali.
Sayang tak sekata pun teringat saat bangun tidur."
tulisnya sembari ia tambahkan kode Senyum
yang membuatku tertawa.
*'kembang tidur'
ujarnya menambahkan. kubayangkan pastilah ia terakan dengan riang.
ketika bahkan dalam tidurpun ia mimpi Menulis puisi
aku tahu dan mengerti betapa ia, sekaligus dengan raganya,
selembut Hati.
ketika bahkan dalam tidurpun ia mimpi Menulis puisi
aku tahu dan mengerti betapa ia, sekaligus dengan raganya,
seterang Cinta.
ketika bahkan dalam tidurpun ia mimpi Menulis puisi
aku tahu dan mengerti betapa ia, sekaligus dengan raganya,
sejembar Kasih.
tak banyak penyair, atau bahkan kiai, yang Pernah mengalami
mimpi Menulis puisi
0:54,28/03/2016
Karya: Timur Suprabana