Minggu, 27 Maret 2016

perempuan yang bercerita kepadaku mengenai kesepiannya

seperti kuntum bunga pada lukisan yang tak kunjung rampung
ia duduk, menunduk, sempat lama dan diam seolah menjelma patung
kerna dikutuk sisa cahya purnama dari bulan yang gusar 
sebab gerhana bakal mulai bikin ia tak lagi sepenuhnya bundar.
lalu angin, atau mungkin helaan nafas itu, menghantarnya memandangku
dengan sepasang bolamata berpelupuk diberati kantuk, kelabu, sewarna bangku.

ingin, tibatiba, kepadanya kutawarkan kopi dengan sedikit kucampur kirin whisky
dan sesudahnya, mungkin, memeluknya sebentar, berbisik, "sedihlah
jika itu bisa membikin kau sedikit ingat pada bagaimana dulu
engkau sering agak gembira."
namun, sebagai sediakala, selalu akhirnya kupilih tak mengutarakan apaapa
dan membiarkannya makin masuk dalam diri sendiri yang tak lagi dihuni siapasiapa.

sepasang kakinya yang indah, lencir dengan kulit nyaris seoranye wortel
yang baru saja dikupas, seperti saling mengerling memberi isyarat
untuk mulai menggoda. itulah sebab mengapa kualihkan pandang mataku ke bahunya
meski aku lebih suka memandang belahan payudaranya yang tipis
dan renggang serta seolah senantiasa menengadah
rindu dijamah.

"sudah malam," kataku.
ia tersenyum sebelum kemudian bercerita kepadaku mengenai bagaimana kemarin,
karena iseng, membeli seprei baru. "sore tadi kulekapkan pada kasur di ranjangku.
besok, kalau tak malas, aku juga mau mengganti korden di dua jendela kamarku.
dari jingga ke warna kulit kacang.
maukah engkau membantu memilihkan motifnya?"

jadi, begitulah, kami pun berbicara tentang korden
sebelum kemudian kusingkap Tirai itu

tampak hatinya
: gosong

menggerhana


0:58,28/03/2016
Karya : Timur Suprabana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar