Rabu, 30 Maret 2016

Kuanggap Bukan Hanya Banyolan

Manusia punya titik nadir rasa sabar.
Tak melulu menerima perlakuan orang.
Adalah wajar bila letupkan emosi dan marah.
Duduk diam bukan berarti tak berani sangar.
Tak bicara bukan berarti pengecut, enggan berang.
Dan tertawa tak selamanya menertawakan lucu polah.
Bertumpuk unek-unek tertahan bisa ledakkan amuk.
Jangan kira tingkah canda tak berarti apa-apa.
Salah fatal menganggap ucap maki hanya sebagai dagelan.

Berhentilah bertingkah sok lucu bak seekor kunyuk.
Jangan biasakan mulut lontarkan serapah nama satwa.
Karena jika belatiku menancap di dadamu, terasa sakit, bukan?

Karya: Bonk
2:48,31/03/2016

Di Waktu "Senja"

Kau selalu bercerita;
Tentang senja dengan segala keremangannya,
Tentang suka dan duka, 
Tentang sesuatu yang dinamakan cinta.
......Sedang dirimu serupa sumbu,
Detik demi detik lesap terbakar waktu,
Meski telah berkali-kali kau tebas sepi,
Namun tak pernah berhenti.
Diam-diam, kurapal do'a untukmu,
Tentang hujan yang tak reda di mata,
Tentang kesunyianmu yang kian renta dan menua,
Hingga tawa dan luka tiada beda,
Untukmu; biarkan senja tetap merona bersama kepak camar,
Hingga empas dukamu yang memar


Karya: Jarwo
2:35,31/03/2016

Senin, 28 Maret 2016

Terdiam "Gelisah"

berteriak tak ingin..
menangis tak bisa..
tertawa sulit terasa..
menyesak..
menghimpit..
menekan..
dan..mengurung semua RASA..
ingin berlari..
menghindar..
dan menepi..
tapi... GALAU menarik lagi..
BAIKLAH...
ku kan kunci lisan ini..
ku kan berdiam disini..
MENIKMATI tiap permainan
HATI... yang sedang kau sutradarai..


Karya: Jarwo
11:08,29/03/2016

Minggu, 27 Maret 2016

Angin

Janganlah menyesali nasib, 
karena angin yang tak mau berhenti berembus, 
Yang mengaduk-aduk pasir padang yg terbentang
Yang mencadari kampung-kampung di Rub' al-Khali
Yang menimbun pohon-pohon
di kebun-kebun dan gunung-gunung
Yang mengubur jalan-jalan menuju "Kota" dan "Taman surgawi"
Yang menggetarkan puncak gedung megah bak Las Vegas
Yang menerjang-terjang segala penghalang
Ingatlah, Aku lah Angin.
Akulah Yang Mengatur nasib


Karya: Rozio Faqir
2:26,28/03/2016

Andaikan hatimu bisa melabuh

Andaikan hatimu bisa melabuh
Aku ingin engkau tau tentangku
Sejauh mataku dan dera jiwaku
Menepis... kalbuuu

Masih adakah kau sekeping rindumu
Untuk aku dan untuk cintaku
Melangkah perlahan dan mulai sirna
Yang kian... hilang

Menanti kelabu... cintamu...
Menepis rindu... yang menderu
Namun bila cinta kita jauh
suci dan tulus aku terima
Karya: Munisah Vha
2:16,28/03/2016


perempuan yang bercerita kepadaku mengenai kesepiannya

seperti kuntum bunga pada lukisan yang tak kunjung rampung
ia duduk, menunduk, sempat lama dan diam seolah menjelma patung
kerna dikutuk sisa cahya purnama dari bulan yang gusar 
sebab gerhana bakal mulai bikin ia tak lagi sepenuhnya bundar.
lalu angin, atau mungkin helaan nafas itu, menghantarnya memandangku
dengan sepasang bolamata berpelupuk diberati kantuk, kelabu, sewarna bangku.

ingin, tibatiba, kepadanya kutawarkan kopi dengan sedikit kucampur kirin whisky
dan sesudahnya, mungkin, memeluknya sebentar, berbisik, "sedihlah
jika itu bisa membikin kau sedikit ingat pada bagaimana dulu
engkau sering agak gembira."
namun, sebagai sediakala, selalu akhirnya kupilih tak mengutarakan apaapa
dan membiarkannya makin masuk dalam diri sendiri yang tak lagi dihuni siapasiapa.

sepasang kakinya yang indah, lencir dengan kulit nyaris seoranye wortel
yang baru saja dikupas, seperti saling mengerling memberi isyarat
untuk mulai menggoda. itulah sebab mengapa kualihkan pandang mataku ke bahunya
meski aku lebih suka memandang belahan payudaranya yang tipis
dan renggang serta seolah senantiasa menengadah
rindu dijamah.

"sudah malam," kataku.
ia tersenyum sebelum kemudian bercerita kepadaku mengenai bagaimana kemarin,
karena iseng, membeli seprei baru. "sore tadi kulekapkan pada kasur di ranjangku.
besok, kalau tak malas, aku juga mau mengganti korden di dua jendela kamarku.
dari jingga ke warna kulit kacang.
maukah engkau membantu memilihkan motifnya?"

jadi, begitulah, kami pun berbicara tentang korden
sebelum kemudian kusingkap Tirai itu

tampak hatinya
: gosong

menggerhana


0:58,28/03/2016
Karya : Timur Suprabana

Bahkan dalam Tidurpun ia Mimpi Menulis Puisi

jadi begitulah ia.
desau yang menyelinap dari sela bulumata 
pada kelopak mripat yang pejam saat badan,
tubuh dan diri baring
bikin jarak dari keriuhan
dan mencipta jeda antara lelap serta jaga.

lelap ia... kekasih Itu...
nafasnya, wahai, kubayangkan
melantunlantun
tak hanya dari lorong lubang hidung
bahkan meruap dari tiap pori
hingga kamarpun tergoda pengin bisa mengalami tidur.

kutahu ia... kekasih Itu... lelap
bukan kerna aku menyaksikannya
melainkan kerna aku, entah bagaimana mulanya,
bisa merasakan liyebnya.
bahkan dalam kelayapan siangku
serasa dapat kujamah lezat istirah yang melentuk bukan kerna lelah.

oh... mimpi ia... kekasih Itu...
bukan mimpi momong...
bukan mimpi mulang...
bukan mimpi nglukis...
bukan mimpi ngaji...
melainkan Justru ia mimpi Menulis puisi...

"Mimpi nulis puisi bagus sekali.
Sayang tak sekata pun teringat saat bangun tidur."
tulisnya sembari ia tambahkan kode Senyum
yang membuatku tertawa.
*'kembang tidur'
ujarnya menambahkan. kubayangkan pastilah ia terakan dengan riang.

ketika bahkan dalam tidurpun ia mimpi Menulis puisi
aku tahu dan mengerti betapa ia, sekaligus dengan raganya,
selembut Hati.

ketika bahkan dalam tidurpun ia mimpi Menulis puisi
aku tahu dan mengerti betapa ia, sekaligus dengan raganya,
seterang Cinta.

ketika bahkan dalam tidurpun ia mimpi Menulis puisi
aku tahu dan mengerti betapa ia, sekaligus dengan raganya,
sejembar Kasih.

tak banyak penyair, atau bahkan kiai, yang Pernah mengalami
mimpi Menulis puisi

0:54,28/03/2016
Karya: Timur Suprabana

'KAU' Kah



aq merinduimu CINTA
disetiap rintik hujan tiba
hembusan senyumku kan selalu mengudara

kaukah yang tak memaksa demi rasa..?
kaukah yang tak mengekang demi sayang..?
kaukah yang tak membelengu demi bersatu..?

tiada penghalang
mimpiku terlihat indah cemerlang

~**~teruntuk jodohku~**~
"namamu dalam ruhku itulah yang akan abadi melebihi waktu, 
kau Adam dan aku Hawa..sepasang jiwa yang berasal dari satu"

0.50,28/03/2016
Karya: Shofy Aisha Citrasuwita

Romantisme Kehidupan




Hidup akan selalu berjalan seiring brjalan nya waktu..
Tidak ada kata kesempatan untuk suatu hal yang sangat menyakit kan untuk orang yang kita sayang..

Jangan sia-sia kan dia yang ada di dekat mu..
karna kau tak kan pernah tau betapa sangat berharga nya dia ketika ia mulai melangkah setapak demi setapak untuk meninggal kan mu..

Ingat..
Hidup kita di dunia yang fana ini hanya sekali..
maka dari itu gunakan hal tersebut untuk bisa menjadi kan kita sbg makhluk ciptaan tuhan yang paling berharga..

Dan itu setidak nya untuk orang yang kita sayangi.


0.44,28/03/2016.
Karya:Panji Al Faruq

Sabtu, 26 Maret 2016

AKU "Chairil Anwar"

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi